Monday, November 22, 2010

GELORA RINDU DAN RINTIHAN CINTA (bab I terjemah burdah)

 



Ya Allah Tuhanku
limpahkan rahmat dan salam abadi selalu
atas kekasih-Mu sebaik-baik makhluk seluruhnya.
Apakah karena ingat tetangga di dzi salam sana

engkau deraikan air mata bercampur darah?
Ataukah karena hembusan angin
dari jalan kazhimah dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman lembah idham

Kenapa kedua matamu tetap meneteskan air mata?
Padahal engkau telah berusaha membendungnya
Kenapa hatimu menjadi begitu gila?
Padahal engkau telah berupaya menyadarkan.
Apakah orang yang mabuk cinta menyangka
Bahwa api cinta dapat ditutupi nyalanya
Diantara tumpahan air mata
Dan hati yang terbakar membara?

Andai tak ada cinta
Tak mungkin engkau tumpahkan air mata
Meratapi puing-puing
Dan terbangun dari tidurmu
Untuk mengenang pohon ben dan gunung

Bagaimana engkau ingkari cinta
Sedang air mata dan tubuhmu yang melemah
Telah menjadi saksi paling jujur
Untuk cinta di hatimu
Kerinduan menyisakan dua garis:
Tangis di matamu dan kurus di tubuhmu
Bagai mawar kuning dan merah
Yang melekat di kedua pipimu

Memang benar bayangan orang yang aku cinta
Selalu hadir membangunkan tidurku
Cinta membuat sesuatu yang indah
Kerap berbaur dengan derita
# # #
Oh, orang yang mencela cinta udzrahku
Kata maaf dariku
Andai engkau menilai dengan hati bijak
Tak muncul cerca dari mulutmu
Apa yang aku alami, engkau sudah tau
Tak ada sudah, rahasiaku yang tersembunyi
Dari mulut-mulut pendusta
Dan, derita ini tak kunjung berhenti

Engkau begitu ikhlas memberi nasihat kepadaku
Tetapi aku tak mendengar saran itu
Karena telinga orang yang di mabuk cinta
Tak dapat mendengar ucapan orang-orang yang mencela
Kepada uban pun aku curiga
Akan saran yang di sampaikanya
Padahal uban dalam memberi saran
Sangat jauh dari yang mencurigakan.

Wednesday, October 27, 2010

Ringkasan istilah dalam filsafat

Filsafat/filosofis (philosophy/philosophical): istilah Yunani untuk cinta kealiman. Ini merupakan hasil dari pemahaman* manusia yang mengandung empat aspek utama: metafisika, logika, ilmu, dan ontologi. Salah satu ciri khas filsafat adalah mendefinisikan sendiri: inilah satu-satunya disiplin yang di dalamnya pertanyaan “Apakah disiplin ini?” merupakan bagian dari disiplin ini sendiri.
Metafisika (metaphysics): aspek tertinggi filsafat*, yang berusaha memperoleh pengetahuan tentang ide. Karena perspektif spekulatif tradisional gagal dalam tugas ini, Kant menyarankan perspektif baru yang hipotetis untuk metafisika. Metafisika bisa berhasil hanya bila didahului dengan Kritik. Lihat juga metafisika*.

Logis (logical): salah satu dari empat perspektif utama Kant, yang bertujuan memantapkan jenis pengetahuan yang analitik dan sekaligus apriori. Ini hanya berkenaan dengan hubungan antarkonsep. Hukum nonkontradiksi (A?-A) adalah hukum dasar logika analitik* atau logika Aristoteles tradisional. Logika sintetik* didasarkan pada kebalikannya, hukum kontradiksi (A=-A). (bandingkan hipotetis)
Estetik (aesthetic): berkenaan dengan persepsi-indera. Dalam Kritik pertama Kant, kata ini mengacu pada ruang dan waktu sebagai syarat-perlu persepsi-indera. Setengah bagian pertama dari Kritiknya yang ketiga memeriksa kebermaksudan subyektif persepsi kita tentang obyek yang indah atau agung dalam rangka menyusun sistem penimbangan estetik. Contohnya, ia mendefinisikan keindahan* dengan menggunakan empat prinsip dasar: universalitas subyektif, kegirangan nirkepentingan, kebermaksudan nirmaksud, dan kegirangan niscaya. (bandingkan teleologis)
Hukum etika/moral (moral law): sebuah “fakta” akal praktis yang terdapat di setiap orang yang rasional, walau sebagian orang lebih menyadarinya daripada orang lain. Pada esensinya, hukum moral adalah pengetahuan kita tentang perbedaan antara yang baik* dan yang nista, dan kepercayaan batiniah kita bahwa kita mesti melakukan apa-apa yang baik. Lihat juga imperatif kategoris.
Ontologi (ontology): studi tentang yang-berada, yang bertujuan mengembangkan ketakjuban berkeheningan akan misteri eksistensi manusia. Salah satu dari empat aspek utama filsafat, yang menyelidiki hakikat berbagai jenis pengalaman* manusia.
praktis (practical): salah satu dari tiga sudut pandang utama Kant, yang terutama berkaitan dengan tindakan—yaitu dengan apa-apa yang ingin kita lakukan sebagai lawan dari apa-apa yang kita ketahui atau rasakan. Mencari sumber tindakan semacam itu merupakan tugas Kritik kedua. Akal praktis adalah sinonim bagi kehendak; kedua istilah ini berhubungan dengan persoalan-persoalan mengenai moralitas. (bandingkan teoretis dan yudisial)
teoretis (theoretical): salah satu dari tiga sudut pandang utama Kant, yang terutama berkaitan dengan kognisi—yaitu apa yang kita ketahui, yang berlawanan dengan apa yang kita rasakan atau kita inginkan. Akal teoretis berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai pengetahuan kita tentang dunia (dunia yang hendak dipahami oleh ilmu*). Mencari sumber pengetahuan semacam itu merupakan tugas Kritik pertama, yang sebaiknya berjudul Critique of Pure Theoretical Reason. (bandingkan praktis dan yudisial).

Friday, June 11, 2010

TEORI ILMU TASAWUF

Pengertian Ilmu yang digunakan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam sebuah kitabnya yang bernama Al-Risalatul-liduniyyah adalah seperti berikut :
AL-ULUM AL-MAKTASABAH yang bermaksud ilmu-ilmu yang didapati dengan mencurahkan usaha seperti belajar dan membuat kajian. Dengan kata lainnya ialah ilmu-ilmu yang didapati dengan senang (Al-Ulum Al-Dhoruriyah) maksudnya ilmu-ilmu yang didapati dengan mudah sahaja menerusi salah satu daripada anggota-anggota pancaindera seperti rasa manis melalui lidah, mendengar suara melalui telinga dan lain-lainnya.

Ilmu GHAIBI LADUNI atau lebih ringkasnya disebut sebagai ilmu laduni yang membawa maksud secara hurfinya 'ILMU KESISIAN' iaitu ilmu disisi tuhan. Sama dengan ILMU ALLAH atau ILMU TUHAN.
Sesetengah ahli ilmuan Islam memberikan atau menggunakan berbagai-bagai istilah lain yang sama maksudnya dengan ilmu LADUNI ini dalam usaha mereka untuk mengemukakan pendekatan ilmu masing-masing. Antaranya ialah seperti berikut :
Ilmu Batin
Ilmu Qalbi
Ilmu Mukasafah
Ilmu Asyror
Ilmu Maknun
Ilmu Hakikat
Ilmu Makrifat
Ilmu Tasauf
Telah banyak ulama-ulama atau ilmuan zohir terkelincir kerana mereka membantah dan menidakkan ilmu laduni ini. Kita lihat bagaimana satu catatan hal tersebut yang dikemukakan oleh Iman Ghazali yang mengatakan:
" Seorang daripada kawan-kawanku telah menceritakan kepadaku mengenai seorang alim yang mengingkari ILMU GHAIBI LADUNI yang menjadi pegangan pemimpin-pemimpin tasauf dan tumpuan ahli-ahli thorikat yang berpendapat bahawa ilmu laduni adalah lebih kuat dan lebih tepat dari ilmu-ilmu yang didapati dengan usaha yang didapati dengan belajar. Kawanku juga mengatakan bahawa orang alim itu berkata bahawa aku fikir tidak ada seorang pun dalam dunia ini yang boleh memperkatakan tentang ilmu yang sebenar dengan fikiran semata-mata tanpa belajar dan tanpa usaha-usaha untuk mendapatkannya. Aku (Ghazali) berkata seolah-olah orang itu tidak tahu tentang cara-cara untuk mendapatkan ilmu dan tidak tahu pula kerja ' JIWA INSANI ', KEMURNIAANNYA DAN CARA-CARA PENERIMAAN DARI ALAM GHAIB DAN ILMU ALAM MALAKUT."
Berkata lagi Imam Ghazali.....
Sesungguhnya mereka yang hanya menganggap ilmu kalam seperti fekah , tafsir dan sebagainya sebagai satu-satunya ilmu yang mampu diperolehi oleh manusia adalah merupakan mereka yang telah menyimpang dari method hakikat kerana Al-Salmi ( Abdul Rahman Muhammad bin Al-Husain bin Musa Al-Azdi Al-Salmi seorang ahli tasauf, ahli sejarah, ahli hadis dan hadis tafsir yang telah menulis sebuah kitab tafsir yang bernama 'Aqa'ik Al-Tafsir/ Wafat tahun 1021=412 Hijrah) telah mengumpulkan sesuatu dalam tafsirnya yang diambil dari kata-kata orang-orang muhaqiqin, sedangkan kata-kata itu tidak tersebut dalam semua kitab tafsir yang ada. Kata Ghazali lagi . Ahli tafsir tepi jalan ini seolah-olah tidak tahu :
Bahagian-bahagian ilmu
Perincian-perinciannya
Tingkat-tingkatnya
Kenyataan-kenyataannya dan
Batin-batinnya.
Memang sudah menjadi adat bahawa orang-orang yang jahil dalam sesuatu akan mengingkari sesuatu itu dan orang yang tersebut itu tidak pernah merasai MINUMAN HAKIKAT dan tidak mengetahui mengetahui mengenai tentang Ilmu Laduni.
Definisi Ilmu Dan Kegunaannya
Ketahuilah bahawa ILMU(Pengetahuan) ialah konsep(tasawwur) jiwa berakal yang tenang(Al-Nafsunathokhotul Muthomainnah) terhadap hakikat-hakikat sesuatu (hakho-ikul-asyaai) dan rupa-rupanya(suuraha) yang bersih dari benda-benda dengan 'ainnya(a'yaanaha), kualiti-kualitinnya(kaifayaataha), kuantiti-kuantitinya(kamayaataha), jauhar-jauharnya(jawaaharoha), dan zat-zatnya(zawaataha), kalau ia adalah tunggal (mufrad).
A'LIM ialah orang yang mengetahui ialah orang yang meliputi, mencapai, lagi mempunyai konsep; manakala "MA'LUM" (apa yang diketahui) ialah zat sesuatu yang terukir ilmunya pada jiwa.
Kemuliaan ilmu itu menurut ukuran kemuliaan maklumat dan darjah seseorang alim itu adalah menurut darjah ilmunya. Tidak ragu-ragu lagu bahawa di antara maklumat yang paling utama, paling tinggi, paling mulia dan paling besar ialah Allah Pencipta, Al-Haq yang tunggal, ilmu yang berhubung dengannya, ilmu tauhid adalah ilmu yang paling utama, paling besar dan paling sempurna. Ilmu ini adalah sesuatu kepastian. WAJIB mengetahuinya atas sekalian yang berakal sebagaimana sabda rasulullah SAW. yang bermaksud:
"Menuntut ilmu adalah fardu atau tiap-tiap orang Islam".
Dan baginda rasulullah menyuruh mencari ilmu ini dengan sabdanya yang bermaksud
"Carilah ilmu meskipun dinegeri Cina".
Orang-orang yang mempunyai ilmu tauhid ini adalah yang paling utama di antara ulama-ulama lain. Sebab inilah Allah Taala menyebut mereka ini secara istimewa pada tingkat yang tertinggi sebagaimana firmannya yang bermaksud:
"Allah telah terangkan bahawa tidak ada tuhan melainkan Dia yang berdiri dengan keadilan dan disaksikan oleh malaikat dan ahli-ahli ilmu."(Surah Al-Imran, ayat 18).
Oleh itu ulama-ulama ilmu tauhid secara umumnya adalah Nabi-nabi, selepas mereka barulah ulama-ulamayang menjadi ahli waris Nabi-nabi. Ilmu Tauhid ini meskipun mulia dan sempurna pada dirinya, ia tidak menolak lain-lain ilmu, malah ia tidak akan terdapat tanpa bahan-bahan yang banyak dan bahan-bahan ini tidak kan teratur jika tidak dari pertolongan berbagai-bagai ilmu seperti ilmu-ilmu langit dan falak-falak(astronomi dan kosmologi) dan ilmu seluruh ciptaan. Dari Ilmu Tauhid lahir pula ilmu-ilmu lain seperti yang akan kami(Imam Ghazali) akan sebutkan bahagian-bahagiannya pada tempat-tempatnya.
Ketahuilah bahawa ilmu itu sendiri adalah mulia tanpa memandang kepada aspek ma'lum, hingga ilmu sihir adalah mulia pada dirinya meskipun ianya palsu. Ini adalah kerana ilmu lawanya kejahilan dan kejahilan adalah dari kelaziman-kelaziman kegelapan dan kegelapan termasuk dalam lingkungan diam dan diam itu hampir dengan tidak wujud. Kepalsuan dan kesesatan termasuk dalam bahagian ini. Oleh itu kejahilan itu hukumnya adalah hukum tidak wujud, manakala ilmu hukumnya adalah hukum wujud dan wujud itu lebih baik daripada tidak wujud. Hidayah kebenaran dan cahaya semuanya termasuk dalam lingkungan wujud. Apabila wujud lebih tinggi daripada tidak wujud maka tentulah ilmu lebih tinggi daripada kejahilan, kerana kejahilan serupa dengan kebutaan dan kegelapan, manakala ilmu serupa dengan penglihatan dan cahaya. TIDAKLAH SAMA ORANG BUTA DENGAN ORANG YANG MELIHAT, juga tidaklah sama gelap dengan cahaya. Allah Taala telah menerangkan mengenai ini dengan firmannya yang bermaksud;
"Katakankanlah(hai Muhammad) adakah sama mereka yang tahu dan mereka yang tidak tahu?".(Surah Az-Zumar ayat 9).
Berdasarkan perbandingan di atas dapatlah pula dikatakan bahawa KEJAHILAN adalah dari kelaziman-kelaziman jisim, manakala ILMU adalah daripada sifat-sifat JIWA. Oleh itu JIWA LEBIH MULIA DARIPADA JISIM.
Ilmu terbahagi kepada beberapa bahagian yang banyak. kita akan menyatakan satu persatu dalam fasal yang lain, sedangkan seorang alim mempunyai berbagai-bagai cara untuk mendapatkan ilmu itu juga kami akan sebutkan dalam fasal yang lain. Yang perlu bagi anda sekarang selepas mengetahui keutamaan ilmu ialah mengetahui bahawa JIWA YANG MERUPAKAN LUH SEGALA ILMU DAN TEMPATNYA. Jisim bukanlah sesuai untuk tempat ilmu kerana jisim adalah terbatas dan tidak dapat dimuati oleh banyak ilmu, malah ia hanya dapat menanggung ukiran-ukiran dan gurisan-gurisan sahaja, sedangkan JIWA MENERIMA ILMU TANPA SEMPIT, SESAK, JEMU DAN HILANG. Sekarang kita akan memperkatakan tentang jiwa secara ringkas.
Ringkasan Fasal Di Atas
Imam Ghazali memulakan perbincangannya dengan memberikan pengertian tentang "ILMU". Kemudian beliau menyatakan bahawa kemuliaan ilmu itu terletak kepada kemuliaan "maklumat". Jika maklumat mulia maka ilmu itu pun turut mulia. Di antara semua maklumat, maka Allah Taala lah yang paling mulia. Sebab itu ilmu yang membicarakan tentang Allah Taala adalah ilmu yang paling tinggi dan mulia. Ilmu ini ialah Ilmu Tauhid.